Total Pengunjung

Follow Me On Twitter

Hi there!

Foto saya
Hi! Smile for this day. God loves you

Rabu, 31 Mei 2017

PSIKOLOGI PENDIDIKAN - ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

 Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus 


Disebut juga sebagai anak luar biasa, dimana membutuhkan pendidikan dan layanan khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiannya secara utuh. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus akan menunjukkan perilaku tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.

Istilah daripada anak luar biasa adalah:
1. Disability (Ketiadaan)
2. Impairment ( Rusak)
§  Visual dan   Hearing
3. Handicap (ketidakmampuan)
4. At Risk (Resiko gagal)
  
Jenis yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra,  tunarungu, tunagrahita,  tunadaksa,  tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa, anak cacat, dan atau Anak Dengan Kedisabilitasan ( ADK ). Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuhan khusus biasanya bersekolah di sekolah luar biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing.
a.        SLB bagian A untuk tunanetra.
b.        SLB bagian B untuk tunarungu.
c.         SLB bagian C untuk tunagrahita.
d.        SLB bagian D untuk tunadaksa.
e.         SLB bagian E untuk tunalaras.
f.         SLB bagian G untuk cacat ganda.
Anak berkebutuhan khusus memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya karena mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan baik permanen maupun temporer yang disebabkan oleh:
a.         Faktor Lingkungan
b.        Faktor dalam diri Anak Sendiri
c.         Kombinasi Keduanya


Pengertian Anak Berebutuhan Khusus (ABK) menurut para ahli:
Menurut Kanner dalam jamaris bahwa orang yang mengemukakan istilah autisme, anak autis adalah anak yang mengalami outstanding fundamental disorder, sehingga tidak mampu melakukan interaksi dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, anak autis bersifat menutup diri dan tidak peduli, serta tidak memperhatikan lingkungannya.
Menurut Heward anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.
Berdasarkan lokasi gangguannya menurut Easterbrooks (1997)
1)      Conductive loss adalah ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarkannya gelombang bunyi ke bagian dalam telinga.
2)      Sensorineural loss adalah ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau saraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak.
3)      Central auditory processing disorder adalah gangguan pada sistem saraf pusat proses auditer mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengar meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinga individu tersebut.

Berdasarkan sosial psikologis
1)        Psikometrik ada 4 taraf tunagrahita berdasarkan kriteria psikometrik menurut skala intelegensi wechsler.
a)        Retardasi mental ringan : seseorang yang memiliki IQ antara 55-69
b)        Retardasi mental sedang : seseorang yang memiliki IQ antara 40-54
c)        Retardasi mental berat : seseorang yang memiliki IQ antara 20-39
d)       Retardasi mental sangat berat : seseorang yang memiliki IQ antara <20

Menguraikan Beberapa Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
·         Karakteristik Anak Tunanetra
Anak tunanetra adalah anak-anak yang mengalami kelainan atau gangguan fungsi penglihatan, yang dinyatakan dengan tingkat ketajaman penglihatan atau visus sentralis di atas 20/200 dan   secara pedagogismembutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di sekolah. Beberapa karakteristik anak-anak tunanetra adalah:
1.        Segi Fisik
Secara  fisik  anak-anak  tunanetra,  nampak  sekali  adanya  kelainan pada organ penglihatan/mata, yang secara nyata dapat dibedakan dengan anak- anak normal pada umumnya hal ini terlihat dalam aktivitasmobilitas dan respon motorik yang merupakan umpan balik dari stimuli visual.
2.        Segi Motorik
Penglihatan   sebenarnya   tidak   berpengaruh  secara langsung  terhadap  keadaan  motorik  anak  tunanetra,  tetapi  denganhilangnya pengalaman visual menyebabkan tunanetra kurang mampumelakukan orientasi lingkungan. Sehingga tidak seperti anak-anak normal, anak tunanetra harus belajar bagaimana berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilanorientasi dan mobilitas.
3.        Perilaku
Anak     tunanetra  sering  menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Manifestasi perilaku tersebut dapat berupa sering menekan matanya,membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan kepala dan badan, atau berputar-putar. Ada beberapa teori yang mengungkapmengapa tunanetra kadang-kadang mengembangkan perilaku stereotipnya.
4.        Akademik
 Keadaan  ketunanetraan berpengaruh pada  perkembangan  keterampilan  akademis,  khususnya dalam bidang  membaca   dan   menulis.   Dengan  kondisi  yang  demikian maka  tunanetramempergunakan berbagai alternatif media atau alatuntuk membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka mungkin mempergunakan huruf braille atau huruf cetakdengan berbagai alternatif ukuran.
5.        Pribadi dan Sosial
 Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra perlu mendapatkan latihan langsung dalam bidangpengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, mempergunakan intonasi suara atau wicara dalammengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktumelakukan komunikasi.


·         Karakteristik Anak Tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka  memiliki  karakteristik  yang  khas,  berbeda dari  anak-anak  normal pada umumnya. Beberapa karakteristik anak tunarungu, diantaranya adalah:
1.        Segi Fisik
·           Cara  berjalannya  kaku  dan  agak  membungkuk.  Akibat terjadinya permasalahan pada organ keseimbangan pada telinga, menyebabkan anak-anak  tunarungu  mengalami  kekurangseimbangandalam  aktivitas fisiknya.
·           Pernapasannya pendek, dan tidak teratur. Anak-anak tunarungutidak pernahmendengarkan   suara-suara   dalam   kehidupan  sehari-hari, bagaimana bersuara atau mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam berbicara.
·           Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu,dimana
sebagian besar pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak tunarungu juga dikenal sebagai anak visual, sehingga  cara  melihatpun  selalu  menunjukkan  keingintahuan  yang besar dan terlihat beringas.
2.        Segi Bahasa
·           Miskin akan kosa kata
·           Sulit   mengartikan   kata-kata   yang   mengandung   ungkapan,  atau idiomatic
·           Tatabahasanya kurang teratur
3.        Intelektual
·           Kemampuan    intelektualnya    normal.    Pada    dasarnya    anak-anak tunarungu  tidak  mengalami  permasalahan  dalam  segi  intelektual. Namun akibat keterbatasan dalam berkomunikasi dan berbahasa, perkembangan intelektual menjadi lamban
·           Perkembangan   akademiknya   lamban   akibat   keterbatasan  bahasa. Seiring terjadinya kelambanan dalam perkembanganintelektualnya akibat  adanya  hambatan  dalam  berkomunikasi , makadalam segi akademiknya juga mengalami keterlambatan.
4.        Sosial-emosional
•        Sering merasa curiga dan syak wasangka. Sikap seperti ini terjadi akibat adanya kelainan fungsi  pendengarannya. Mereka tidak dapatmemahami apa yang dibicarakan oranglain, sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga.
•        Sering bersikap agresif

Secara   umum      berkesulitan   belajar   spesifik   adalah  anak   yang mengalami  gangguan  pada  satu  atau  lebih  dari proses  psikologi  dasar termasuk pemahaman dalam menggunakanbahasa lisan atau tertulis yang dimanifestasikan  dalam  ketidaksempurnaan mendengar, berfikir, wicara, membaca, mengeja ataumengerjakan hitungan matematika. Konsep ini  merupakan  hasil dari  gangguan  persepsi,  disfungsi  minimal  otak,  disleksia,  dan disphasia, kesulitan belajar ini tidak termasuk masalah belajar, yang disebabkan secara langsung oleh adanya gangguan penglihatan, pendengaran, motorik, emosi, keterbelakangan mental, atau faktor lingkungan, budaya, maupun keadaan ekonomi, yakni sebagai berikut :

•   Disfungsi pada susunan syaraf pusat (otak),
•   Kesenjangan (discrepancy) antara potensi dan prestasi
•   Keterbatasan proses psikologis
•   Kesulitan pada tugas akademik dan belajar.
Dan biasanya, semakin tinggi kompleksibilitas makin sedikit jumlah siswa yang ada dalam suatu sekolah. 

Pendidikan Anak Prasekolah


  Menurut Piaget anak usia pra sekolah di  usia 2-7tahun. Lalu apa perbedaan PAUD dengan Pra sekolah , jawabannya adalah hampir sama. UU No.20 tahun 2003 SISDIKNAS 
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Ayat 14.
Masa prasekolah dapat merupakan masa-masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh masa kehidupan anak. Untuk itulah kita perlu menjaga hal tersebut berjalan sebagaimana adanya. Janganlah memaksakan sesuatu karena diri kita sendiri dan mengharapkan secara banyak dan segera, maupun mencoba untuk melakukan hal-hal yang memang mereka belum siap. Suatu hal yang tidak mudah untuk mengajari anak untuk berhitung, membaca ataupun menulis pada masa-masa pertama kehidupannya.
Masa prasekolah adalah masa pertumbuhan. Masa-masa ini adalah masa menemukan orang seperti apa anak tersebut, dan teknik apakah yang bisa cocok dalam menghadapinya. Masa prasekolah adalah masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play.
Dalam dunianya, seorang anak merupakan decision maker dan play master.Dengan bermain, anak bebas beraksi dan juga mengkhayalkan sebuah dunia lain, sehingga dengan bermain ada elemen petualangan.
Ciri Fisik Anak Prasekolah
Penampilan maupun gerak-gerik anak taman kanak-kanak mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki peguasaan (control) terhadap tubuhnya, sangat meyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Otot-otot besar pada anak taman kanak-kanak lebih berkembang dari control jari dan tangan. Oleh karena itu, biasanya anak belum terampil dalam kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu.Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itu sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetatpi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya. Orang tua atau guru harus senantiasa mengawasi dengan cermat dan telaten.
Ciri Sosial Anak Prasekolah
Anak prasekolah telah menyadari peran jenis kelamin dan sex typing. Setelah anak masuk TK, umumnya pada mereka telah berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki dan anak perempuan. Kesadaran ini tampak pada pilihan terhadap alat permainan dan aktivitas bermain yang dipilih anak lelaki dan anak perempuan. Anak lelaki umumnya lebih menyukai bermain di luar, bermain kasar dan bertingkah laku agresif. Anak perempuan lebih suka bermain bersifat kesenian, bermain boneka, dan menari.
Paten (1932), mengamati tingkah laku sosial anak usia dini ketika mereka sedang bermain
·         Tingkah laku unoccupied. Anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
·         Bermain asosiatif. Anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
·         Bermain kooperatif. Anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi, ada pimpinannya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dan lain-lain. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak. Piaget mengemukakan perkembangan permainan anak usia dini sebagai masa symbolic make play (berlangsung dari 2-7 tahun).
Pola Bermain
Pola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuia dengan kelas sosial dan ‘gender’. Keneth Rubin dkk (1976), melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial dan kognitif anak, yaitu:
·        1. Bermain fungsional. Melakukan pengulangan gerakan-gerakan  otot dengan atau tanpa objek-objek.
·        2. Bermain konstruktif. Melakukan manipulasi terhadap benda-benda dalam kegiatan membuat konstruksi 
         atau mengkreasi/ mencipatakan sesuatu.
·        3. Bermain dramatik, adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner.
·        4. Bermain dengan mennggunakan aturan
Sedangkan anak perempuan lebih banyak soliter, konstruktif-paralel, dan dramatik, dibandingkan dengan anak lelaki. Anak lelaki lebih banyak bermain fungsional-soliter dan asosiatifdramatik daripada anak perempuan.
Ciri Kognitif Anak Prasekolah
Pada rentang usia 3-4 sampai 5-6 tahun, anak mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa kesiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Menurut Montessori masa ini ditandai dengan masa peka terhadap segala stimulasi yang diterimanya melalui pancaindera. Masa peka memiliki arti penting bagi perkembangan setiap anak.
Dalam kesempatan lain, Hurlock menyatakan bahwaanak usia 3-5 tahun adalah masa permainan. Bermain dengan benda atau alat permainadimulai sejak usia satu tahun pertama dan akan mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Menurut Piaget, usia 5-6 tahun ini merupakan praoperasional konkret. Pada tahap ini anak dapat memanipulasi objek symbol, termasuk kata-kata yang merupakan karakteristik penting dalam tahapan ini. Hal ini dinyatakan dalam peniruan yang tertunda dan dalam imajinasi pura-pura dalam bermain.
Menurut Montessori dalam Patmonodewo (2000), masa peka anak yang berada pafa usia 3,5 tahun ditandai dengan suatu keadaan di mana potensi yang menunjukkan kepekaan (sensitif) untuk berkembang. Dalam kaitan itu, menurut Dewey dalam Soejono (1960), pendidik atau orang tua harus memberikan kesempatan pada setiap anak untuk dapat melakukan sesuatu, baik secara individual maupun kelompok sehingga anak akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Sekolah harus dijadikan laboratorium bekerja bagi anak-anak.
Pengertian Kesiapan Belajar
Secara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Kesiapan sering kali disebut dengan “readiness”. Seorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di dalam dirinya sudah terdapat “readiness” untuk mempelajari sesuatu itu.
Menurut Djamarah “readiness” sebagai kesiapan belajar adalah suatu kondisi seseorang yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan. Maksud melakukan suatu kegiatan yaitu kegiatan belajar, misalnya mempersiapkan buku pelajaran sesuai dengan jadwal, mempersiapkan kondisi badan agar siap ketika belajar di kelas dan mempersiapkan perlengkapan belajar yang lainnya.
Metode Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kesiapan Sekolah Anak Prasekolah
Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengembangkan kesiapan sekolah pada anak usia pra-sekolah. Metode-metode pembelajaran berikut, merupakan metode pembelajaran yang banyak direkomendasikan oleh para pakar pendidikan pra-sekolah untuk mengembangkan kesiapan anak memasuki pendidikan sekolah dasar.
a.      Metode Bermain
Salah satu aspek utama pendidikan pra-sekolah adalah bermain. Bermain merupakan cara/jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi dunia lingkungannya. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Bermain membantu anak menjalin hubungan sosial antar anak (Padmonodewo, 2003).



PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN SEKOLAH


     Psikologi sekolah akan selalu mendukung psikologi pendidikan dan memperhatikan keadaan perilaku dan mental dalam sekolah dan Psikologi Pendidikan lebih memperhatikan proses belajar dan mengajar. 
Tujuan pendidikan sendiri adalah : memebentuk wawasan kemampuan kognitif, karakter, agama dan moral pancasila peserta didik agar memiliki perkembangan yang optimal sesuai dengan tujuan pendidikan. Pola asuh didalam rumah,lingkungan dan pengamalan juga mempengaruhi pendidikan anak. Gejala psikologis yang akan bersifat dinamis. 

 Teori Dalam Proses Kognitif Pendidikan 
 1. Jean Piaget Teori Kognitif Piaget 

A. Teori Kognitif Jean Piaget Teori perkembangan kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian disekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek, seperti mainan, perabot, dan makanan, serta objek-objek social seperti diri, orang tua dan teman. Piaget (1964) berpendapat, karena manusia secara genetik sama dan mempunyai pengalaman yang hampir sama, mereka dapat diharapkan untuk sungguh-sungguh memperlihatkan keseragaman dalam perkembangan kognitif mereka. Oleh karena itu, dia mengembangkan empat tahap tingkatan perkembangan kognitif yang akan terjadi selama masa kanak-kanak sampai remaja, yaitu sensori motor (0-2 tahun) dan praoperasional (2-7 tahun).

 Yang akan kita bicarakan untuk masa kanak-kanak adalah dua tahap ini lebih dahulu, sedangkan dua tahap yang lain, yaitu operasional konkret (7-11 tahun) dan operasional formal (11-dewasa), akan kita bicarakan pada masa awal pubertas dan masa remaja. Dalam teori perkembangan kognitif Piaget, masa remaja adalah tahap transisi dari penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berpikir formal secara operasional. Remaja mulai menyadari batasan-batasan pikiran mereka. Mereka berusaha dengan konsep-konsep yang jauh dari pengalaman mereka sendiri. Inhelder dan Piaget (1978) mengakui bahwa perubahan otak pada pubertas mungkin diperlukan untuk kemajuan kognitif remaja. 

B. Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Piaget Menurut Jean Piaget, perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir sampai dewasa. Setiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuan intelektual baru di mana manusia mulai mengerti dunia yang bertambah kompleks. Tahapan praoperasional Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai.

 Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis.

 Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

 Adapun tugas dari psikologi sekolah yakni bertugas untuk membentuk individu sehat mental guna tercapainya proses belajar efektif, seperti: 

 • High academic Achievment 
• Positive Social Skills Behavior 
 • Healthy relationship connectedness
 • Tolerance and respect for others 
 • Competence /self exteem and resistency


Thankyou! :) 

Selasa, 11 April 2017

Power Point Hasil Observasi Pendidikan

Kelompok 8 (Kelas Psikologi Pendidikan A)

Ketua Kelompok :  Wanda P
Anggota Kelompok : 

16-002) Hafizah Aini 
16-005) Talenta H
16-010) M.Ridho 
16-030) Neni T
16-041) Intan Y
16-058) Santi M




Minggu, 09 April 2017

Testimoni Kuliah Psikologi Pendidikan

Testimoni perkuliahan


Psikologi Pendidikan Kelas A

           Selama mempelajari kegiatan pembelajaran Psikologi Pendidikan dikampus, saya semakin bingung ingin menentukan pilihan saya untuk departemen di psikologi. Bingungnya adalah ketika saya dulu sempat tertarik dengan departemen lain, tetapi karena bagian pendidikan lebih kearah dunia sekolah dan juga melingkupi perkembangannya membuat pendidikan sangat menarik bagi saya.


Walaupun tugas yang kelak didapati adalah tugas yang sangat melelahkan tetapi saya percaya, kalau sudah dimulai dari rasa suka terhadap mata kuliah itu maka akan semakin mudah menjalaninya.
Jangan pernah menyerah buat kita semua!

Cheer up >.< 

Laporan Observasi Tahap Prasekolah (TK)

Kelompok 8 (Kelas Psikologi Pendidikan A)

Ketua Kelompok :  Wanda P
Anggota Kelompok : 

16-002) Hafizah Aini 
16-005) Talenta H
16-010) M.Ridho 
16-030) Neni T
16-041) Intan Y
16-058) Santi M
                 
3.      Nama Sekolah                       : TK Dharma Wanita Persatuan USU
4.      Identitas Sekolah :
- Alamat                                  :  Jl.Universitas No.26, Padang Bulan Kota Medan
- Jumlah Siswa (Observasi)     :  15 orang
- Jumlah Kelas                         :  3 (tiga) kelas
- Jumlah Guru                         :  4 (empat) orang
- Prestasi                                  :  Juara I Lomba Kebersihan tingkat Kecamatan
5.      Hari/Tanggal Observasi         :  Jumat,31 Maret 2017
6.      Teori Landasan                      : Bab 14. Mengelola Kelas
(Psikologi Pendidikan oleh J.W Santrock)
7.      Waktu Observasi :                 08.00 – 10.15 (2 jam 15 menit)
8.      Lokasi Observasi :                 TK Dharma Wanita Persatuan USU
9.      Pembagian Tugas :
No
Nama
Tugas
1.
Wanda Pratama
Dokumentasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
2.
Hafizah Aini
Mencatat hasil observasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
3.
Talenta Hutabarat
Dokumentasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
4.
M.Ridhona Z Nur
Dokumentasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
5.
Neni Tria Harahap
Mencatat hasil observasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
6.
Intan Yolanda
Mencatat hasil observasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
7.
Santi Melisa
Mencatat hasil observasi, menyusun laporan, meninjau lapangan
10.  Jadwal dan Sistematis Pelaksanaan Penelitian

NO
URAIAN
MARET
APRIL
1
Diskusi Pemilihan Topik








2
Diskusi Mengenai Teori








3
Observasi








4
Diskusi Kelompok








5
Pembuatan Poster








6
 Posting Blog









SISTEMATIS PELAKSANAAN PENELITIAN
Ø  06 Maret 2017  :  Diskusi Pemilihan Topik
Ø  24 Maret 2017  :  Diskusi Mengenai Teori
Ø  31 Maret 2017  :  Observasi
Ø  01 April 2017    :  Diskusi Kelompok
Ø  04 April 2017    :  Pembuatan Poster
Ø  09 April 2017    :  Posting Blog


11.  Jadwal Kegiatan (Jumat, 31 Maret 2017)
08.00 – 08.15  :  Bel berbunyi, berbaris, berolahraga, menyanyi dan menari bersama
08.15 – 08.45  :  Kegiatan awal, salam dan doa
08.45 – 09.45  :  Kegiatan Inti (Pada hari Jumat menggambar dan membaca cerita)
09.45 – 10.00  :  Cuci tangan, doa dan makan bersama di dalam kelas
10.00 – 10.15  Istirahat, main didalam atau diluar kelas
10.15               :  Pulang










12.  Catatan Hasil Observasi
a.       Keadaan Kelas
·         Di dalam kelas terdapat 4 kelompok meja dengan 3-4 orang murid yang menduduki kursi
·         Gaya penataan kelas menggunakan gaya tatap muka
·         Kelas sudah bersih dan rapi saat murid-murid memasuki kelas
·         Di belakang kelas terdapat tempat mainan murid-murid disimpan
·         Loker kelas terletak rapi disudut belakang kelas dengan nama masing-masing murid. Di dalam loker terdapat buku mewarnai, buku tulis, alat tulis, dan peralatan lainnya.
·         Kelas memiliki dekorasi bervariasi, yaitu terdapat poster-poster abjad serta lukisan- lukisan lucu di dinding kelas
·         Kelas menggunakan AC sebagai pendingin ruangan
·         Terdapat satu meja guru di depan kelas

b.      Aktivitas Kelas
·         Sebelum memasuki kelas murid melakukan senam pagi yang didampingi guru
·         Guru sudah mengenali nama murid satu persatu
·         Murid memasuki kelas dan duduk di kursinya masing-masing
·         Guru membuka kelas dengan berdoa dan menanyakan kabar murid
·         Guru mengulas kembali pelajaran yang sudah lalu saat membuka kelas
·         Guru menanyakan ibadah murid
·         Murid sudah hapal rutinitas di hari Jum’at yaitu murid bebas melakukan hal yang diinginkan seperti menggambar karena senin-kamis murid sudah belajar menulis, membaca, dan berhitung.
·         Murid mengambil sendiri peralatan menggambarnya di loker yang sudah tersedia
·         Ada juga kegiatan menyanyi tentang pelajaran murid
·         Setelah murid selesai menggambar, guru memberikan nilai terhadap gambaran mereka serta menanyakan apa yang mereka gambar
·         Murid yang sudah selesai dinilai diizinkan untuk bermain di area belakang kelas yang sudah tersedia dengan mainan
·         Pada saat jam makan, murid diminta untuk mencuci tangan dengan cara mengantri, kamar mandi murid berada di luar ruangan kelas
·         Guru meminta murid berdoa dan mengawasi murid saat sedang makan sambil menanyakan apa bekal yang ia bawa
·         Sebelum pulang murid diminta merapikan barang-barangnya
·         Diakhir kelas murid diminta berdoa dan diizinkan pulang, kelompok murid yang paling tertib diizinkan pulang terlebih dahulu

c.       Interaksi
·         Interaksi antar guru dan murid cukup baik dan sering
·         Guru membimbing murid untuk membaca doa-doa
·         Guru menegur murid secara langsung apabila tidak tertib
·         Guru menghapal dengan baik nama-nama murid
·         Guru memberikan pujian kepada murid yang berani bercerita tentang kegiatannya
·         Saat menggambar murid banyak berinteraksi dan bercanda, serta pinjam meminjam alat-alat menggambar
·         Guru menanyakan apa gambar yang  mereka gambar secara individu
·         Ada beberapa murid yang tidak mau menggambar tetapi malah mengerjakan soal-soal di bukunya

13.  Pembahasan Antara Hasil Observasi dengan Landasan Teori
1.      Pada TK Dharma Wanita USU, anak – anak didik terlihat mampu menjawab pertanyaan guru melalui media simbolik dengan bentuk rumah ibadah dan foto Presiden. Dimana pada pemikiran praoperasional menurut piaget, tahapan periode praoperasional ini terdapat sebuah kemajuan pemikiran simbolis disertai pemahaman yang tumbuh mengenai ruang, sebab akibat, identitas, kategorisasi, dan lainya.
2.       Evertson, Emmer, dan Worsham (2003) dalam buku Santrock (2014) memberi beberapa prinsip penataan kelas, yaitu:
-          Mengurangi kepadatan di tempat lalu–lalang.
-          Memastikan bahwa guru dapat melihat murid dengan mudah.
-          Materi dan perlengkapan kelas mudah diakses.
-          Memastikan murid dapat melihat semua presentasi kelas.
       TK Dharma Wanita masih belum mampu memastikan kondisi pertama. Dikarenakan hal ini terjadi karena ruang kelas satu pintu dengan jalan keluar kantor kepala sekolah.
      Mengenai gaya penataan kelas, Crane (2001) dan Fickes (2001) dalam Santrock (2004) mengemukakan lima gaya penataan, TK Dharma Wanita USU menggunakan gaya yang  kedua. Yaitu, gaya tatap muka, dimana murid saling berhadapan (face to-face). Anak – anak akan belajar  cenderung lebih sering bercengkrama dengan temannya yang lain.
      Personalisasi kelas cukup baik di TK ini sebab dekorasi kelas menggunakan hiasan warna-warni , mainan yang memacu kognitif  dan kreatifitas (seperti susunan kayu dari besar-kecil dan lego). Tetapi ruangan kelas kurang efektif penempatannya karena berseberangan dengan ruangan kepala sekolah (bisa dilewati dari pintu yang sama).
3.      Dalam menciptakan lingkungan yang positif di sekolah,guru menggunakan strategi otoritatif dimana murid dilibatkan dalam kerja sama serta diberi perhatian. Kerjasama terlihat dari kegiatan mengambil peralatan gambar di loker masing-masing.
4.      Dalam mempertahankan aturan atau prosedur, terdapat tiga strategi untuk menjaga kerjasama antara murid dan guru yang masing-masing telah dipenuhi oleh TK  yaitu:
      Menjalin hubungan positif dengan murid: berinteraksi secara empat mata.
      Mengajak murid untuk bertanggung jawab: setelah selesai makan mereka harus membersihkan meja mereka dan merapikannya,setelah selesai bermain mereka harus menyusun kembali mainan yang mereka ambil.
       Memberikan hadiah: memuji, mengacungkan jempol,  menepuk tangan pada murid yang bersemangat dan yang berani untuk tampil membaca puisi dan bernyayi.
5.      Terdapat masalah yang jelas mengenai seorang murid yang tidak bisa duduk tenang dikelas dan mulai mengganggu teman yang lainnya, tetapi guru TK menyelesaikan masalah ini dengan bentuk non-asertif. Setelah menanganinya guru melanjutkan pembelajaran dikelas.
6.      Untuk mengatasi beberapa masalah yang lazim dialami oleh para guru TK dalam berkomunikasi dengan muridnya, maka harus dengan menjalin hubungan komunikasi aktif dengan audien (anak-anak). Hal ini dikatakan oleh College pada tahun 1995 (Santrock, 2004).



TEORI MANAJEMEN KELAS
1.      Sejarah dan Tokoh
Kelas dimana anak usia dini atau Taman Kanak Kanak sebagai sebuah institusi pendidikan mungkin masih tergolong baru dibandingkan sekolah lainnya. Menurut sejarahnya tercatat Freidrich Froebel (21 April 1782-21 Juni 1852) seorang berkebangsaan Jerman, sebagai salah satu pengagas pendidikan untuk anak dengan membuka kindergarten (kinder=anak; garten=taman) pertama di dunia pada 28 Juni 1840 di Thuringia-Jerman. 
Pendidikan TK dimaksudkan untuk memelihara tumbuhnya kebudayaan bangsa yang merdeka, terutama melalui sistem pendidikan dan pengajaran. Seiring dengan perkembangan Taman Indria, berkembang pula Taman Kanak-kanak (TK) yang merupakan adaptasi dari konsep Kindergarten dan Taman Indria. Perkembangan TK jauh lebih pesat dari pada Taman Indria. Dalam perjalannya selama di Indonesia, lahir pula Raudhatul Athfal atau RA yang merupakan penyelenggaraan program pendidikan bagi anak usia dini dengan kekhasan agama Islam.
Baik Taman Indria, Taman Kanak-kanak, maupun Raudhatul Athfal, sasarannya baru mencakup anak di atas usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian anak usia 0-4 tahun belum terlayani program PAUD dalam bentuk apapun. Seiring dengan perkembangan kebutuhan akan pengasuhan terutama bagi anak yang kedua orangtuanya bekerja di luar rumah, muncullah program Taman Penitipan Anak atau TPA yang awalnya hanya berfungsi sebagai tempat titip/pengasuhan anak. Sejak tahun 1980-an, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dunia internasional tentang arti pentingnya pendidikan, mulai dibuka lembaga untuk anak usia 3-4 tahun dalam bentuk Kelompok Bermain atau Kober atau KB.
Hal penting lainnya adalah dasar bagi kurikulum yang dirancang Froebel, yaitu gift (objek yang dapat dipegang dan digunakan anak sesuai instruksi guru, sehingga anak dapat belajar tentang bentuk, ukuran, warna, dan menghitung), occupation(materi untuk mengembangkan berbagai keterampilan, seperti menjahit sesuai pola, membuat bentuk mengikuti pola, menggunting, menggambar, menempel dan melipat kertas, dll), nyanyian, dan permainan yang mendidik.
2.      Anak Prasekolah
Salah satu Teori yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami kognitif seseorang melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia.
1.Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2.Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3.Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4.Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Pemikiran Praoperasional menurut piaget
Pada tahapan periode praoperasional ini terdapat sebuah kemajuan pemikiran simbolis disertai pemahaman yang tumbuh mengenai ruang, sebab akibat, identitas, kategorisasi, dan lainya.
1)      Fungsi simbolis Fungsi simbolis (Symbolic function): 
Kemampuan anak menggunakan representasi mental  (kata-kata, angka, atau gambar). Tanpa simbul-simbul, individu tidak dapat berkomuniasi secara verbal, membuat perubahan, membaca peta, atau mengenali foto-foto yang disayangi dari kejauhan. Simbol-simbol bisa membantu seorang anak untuk mengingat dan berpikir tentang sesuatu yang tidak hadir secara fisik.
Penggunaan simbol bagi anak pada tahap ini tampak dalam lima gejala berikut:
a.       Imitasi tidak langsung Anak mulai dapat menggambarkan sesuatu hal yang dialami atau dilihat, yang sekarang bendanya sudah tidak ada lagi. Jadi pemikiran anak sudah tidak dibatasi waktu sekarang dan tidak pula dibatasi oleh tindakan-tindakan indrawi sekarang. Contoh: anak dapat bermain kue-kuean sendiri atau bermain pasar-pasaran. Ini adalah hasil imitasi.

b.      Permainan Simbolis Sifat permainan simbolis ini juga imitatif, yaitu anak mencoba meniru kejadian yang pernah dialami. Contoh: anak perempuan yang bermain dengan bonekanya, seakan-akan bonekanya adalah adiknya.

c.       Menggambar Pada tahap ini merupakan jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran mental. Unsur pada permainan simbolis terletak pada segi “kesenangan” pada diri anak yang sedang menggambar. Sedangkan unsur gambaran mentalnya terletak pada “usaha anak untuk memulai meniru sesuatu yang riel”. Contoh: anak mulai menggambar sesuatu dengan pensil atau alat tulis lainnya.
d.      Gambaran Mental merupakan penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengalaman yang lampau. Gambaran mental anak pada tahap ini kebanyakan statis. Anak masih mempunyai kesalahan yang sistematis dalam mengambarkan kembali gerakan atau transformasi yang ia amati.Contoh yang digunakan Piaget adalah deretan lima kelereng putih dan hitam.

e.       Bahasa Ucapan Anak menggunakan suara atau bahasa sebagai representasi benda atau kejadian. Melalui bahasa anak dapat berkomunikasi dengan orang lain tentang peristiwa kepada orang lain.

Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
3.      Manajemen kelas
Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Evertson, Emmer, & Worsham, 2003 dalam Santrock, 2004). Made Pidarta dengan mengutip pendapat Lois V Johson dan Mary A Bany, bahwa pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas. Secara historis, dalam manajemen kelas, guru dianggap sebagai pengatur dan dalam tren selanjutnya lebih menekankan pada pelajar, dan guru sebagai fasilitator (Freiberg, 1999; Kauffman, dkk., 2002 dalam Santrock, 2004).
            Proses belajar-mengajar dalam kelas hakikatnya akan melibatkan semua unsur yang ada dalam sekolah yang bersangkutan akan tetapi secara langsung akan terlibat hal-hal sebagai berikut :
1.      Guru sebagai pendidik
2.      Murid sebagai yang dididik
3.      Alat-alat yang dipakai
4.      Situasi dalam dan lingkungan kelas
5.      Kelas itu sendiri                                              
6.      Dan hal lainnya yang sewaktu-waktu terjadi

Kelas Padat, Kompleks, dan Berpotensi Kacau
Walter Doyle (1986) dalam buku Santrock (2004) mendeskripsikan enam karateristik yang merefleksikan kompleksitas dan problemnya yaitu:
1.        Kelas adalah multidimensional, yaitu kelas adalah setting untuk banyak kegiatan, mulai dari aktivitas akademik seperti membaca, menulis, bermain, berkomunikasi dengan teman dan berdebat.
2.        Aktivitas terjadi secara simultan. Banyak aktivitas yang terjadi secar simultan didalam kelas, seperti ada murid yang menulis dan sebagian lagi mendiskusikan suatu cerita bersama guru.
3.        Hal-hal terjadi secara cepat. Kejadian yang sering kali terjadi secara cepat dan membutuhkan respon yang cepat.
4.        Kejadian sering tidak terprediksi. Hal ini berupa murid sakit, murid berkelahi, alarm kebakaran berbunyi, dan sebagainya.
5.         Hanya ada sedikit privasi. Kelas adalah tempat publik dimana guru mengatasi masalah, melihat kejadian yang tidak terduga, dan mengalami frustasi.
6.        Kelas punya sejarah. Murid punya kenangan tentang apa yang terjadi di kelas pada waktu dahulu.
Tujuan dan Strategi Manajemen
Menurut Santrock (2004), ada 2 tujuan manajemen kelas yang efektif, yaitu :
1.        Membantu murid menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan.
2.        Mencegah murid mengalami problem akademik dan emosional.
Mendesain Lingkungan Fisik Kelas
Prinsip penataan kelas yang dikemukakan oleh Evertson, Emmer, dan Worsham (2003) dalam buku Santrock (2004):
- Mengurangi kepadatan di tempat lalu–lalang.
- Memastikan bahwa duru dapat melihat murid dengan mudah.
- Materi dan perlengkapan kelas mudah diakses.
- Memastikan murid dapat melihat semua presentasi kelas.

Gaya Penataan yang dikemukakan oleh Crane (2001) dan Fickes (2001) dalam buku Santrock (2004):
- Gaya auditorium yaitu semua murid menghadap guru.
- Gaya tatap muka yaitu murid saling berhadapan langsung satu sama lain.
- Gaya off-set, sejumlah murid duduk di bangku tetapi tidak duduk berhadapan
   langsung satu sama lain.
- Gaya seminar, sejumlah murid duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi.
- Gaya klaster, yaitu sejumlah murid bekerja dalam kelompok kecil.

4.      Perkembangan Anak Pra-Sekolah
Anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia 3 – 6 tahun. Mereka biasa mengikuti program prasekolah dan kinderganten. Sedangkan di Indonesia pada umumnya mereka mengikuti program tempat penitipan anak 3 – 5 tahun dan kelompok bermain atau Play Group (usia 3 tahun), sedangkan pada anak usia 4 – 6 tahun biasanya mereka mengikuti program taman kanak-kanak (Biechler dan Snowman dari Patmonodewo, 2003).
Dalam proses perkembanganya ada ciri-ciri yang melekat dan menyertai periode anak tersebut. Menurut Snowman (1993 dalam Patmonodewo, 2003) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang biasanya ada TK. Ciri-ciri anak TK dan prasekolah yang dikemukakan meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif.
Ciri Fisik Anak Prasekolah
Penampilan maupun gerak gerik prasekolah mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya.
·           Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri.
·           Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak.
·           Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Oleh karena itu biasanya anak belum terampil, belum bisa melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya, mengikat tali sepatu.
·           Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna.
·           Walaupun tubuh anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft). Hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya, sebaiknya dilerai, sebaiknya dijelaskan kepada anak-anak mengenai bahannya.
·           Walaupun anak lelaki lebih besar, anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas motorik halus, tetapi sebaiknya jangan mengkritik anak lelaki apabila ia tidak terampil, jauhkan dari sikap membandingkan anak lelaki-perempuan, juga dalam kompetisi ketrampilan seperti apa yang disebut diatas.


Ciri Sosial Anak Prasekolah atau TK
·           Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
·           Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
·           Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Parten (1932) dalam social participation among praschool children melalui pengamatannya terhadap anak yang bermain bebas di sekolah, dapat membedakan beberapa tingkah laku sosial.
                                   
Ciri Emosional Anak Prasekolah atau TK
§   Anak TK cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
§   Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.
Ciri Kognitif Anak Prasekolah atau TK
·           Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara, khususnya dalam kelompoknya, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk berbicara, sebagian dari mereka dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.
·           Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang. Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973) menjelaskan cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten dengan cara sebagai berikut: a) Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak. b) Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak. c) Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.
·           Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri. a) Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku. b) Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya. c) Kagumilah apa yang dilakukan anak. d) Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati.



Pendidikan anak Pra-Sekolah
·           Menurut The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), pendidikan prasekolah (early childhood education) adalah pelayanan yang diberikan dalam tatanan masa kanak awal. Fungsi pendidikan prasekolah sendiri merupakan sebagai persiapan anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih matang.
·      Menurut UU RI No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 12 (2), pendidikan prasekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasai pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup.
Bermain Sosial
Dengan bentuk seperti ini, guru dapat melihat partisipasi anak dalam suatu kegiatan bermain dan akan menunjukkan derajat partisipasi berbeda. Parten (1932) dan Brewer (1992) menjelaskan berbagai derajat partisipasi anak :
· Solitary Play             ; anak bermain sendiri tanpa menghiraukan anak lainnya
· Onlooker Play           ; anak hanya sebagai penonton dalam permainan tersebut
· Parallel Play              ; anak menggunakan mainan yang sama atau meniru cara anak lain ber-
                                      main, namun tetap bermain sendiri.
· Associative Play       ; anak bermain bersama namun permainan tidak terstruktur
· Cooperative Play      ; anak bermain bersama dengan aturan-aturan tertentu
Praktik Pendidikan Anak Pra-Sekolah
Pada tahun 1986, NAEYC meneliti isu praktik yang cocok dikembangkan pada program masa awal anak-anak. Dalam suatu studi, anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah dengan praktik yang cocok menurut dokumen yang diterbitkan NAEYC memperlihatkan perilaku kelas yang lebih cocok dan kebiasaan belajar yang lebih baik (Hart & others, 1993).
Beberapa model pembelajaran yang dilaksanakan di PAUD:
1.      Model Pembelajaran Klasikal
Adalah suatu pembelajaran dimana dalam waktu yang sama, kegiatan dilakukan oleh seluruh anak sama dalam satu kelas. Pembelajaran ini merupakan model yang paling awal digunakan di TK. Sarana pembelajaran terbatas dan kurang memperhatikan minat anak secara individu.
2.      Model Pembelajaran Berdasarkan Kelompok dengan Kegiatan Pengamanan
Dalam pembelajaran ini anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok melakukan kegiatan yang berbeda-beda. dalam satu pertemuan anak harus menyelesaikan 2 – 3 kegiatan dan secara bergantian. Bila ada anak yang sudah menyelesaikan tugas lebih cepat, maka anak tersebut dapat meneruskan kegiatan lain di kelompok yang tersedia tempat. Kalau tidak ada tempat anak dapat bermain di kegiatan pengaman. Kegiatan pengaman disediakan alat-alat yang bervariasi, sering diganti sesuai dengan tema / sub tema
3.      Model pembelajaran berdasarkan sudut,
Langkah-langkah pembelajaran hampir sama dengan model area, hanya sudut-sudut kegiatan merupakan pusat kegiatan. Alat-alat kegiatan yang disediakan lebih bervariasi, sering diganti sesuai dengan tema dan sub tema.
4.      Model pembelajaran berdasarkan area Model
Pembelajaran ini lebih memberikan kesempatan kepada anak dalam memilih / menentukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran ini untuk memenuhi kebutuhan anak dan menghormati keberagaman budaya serta menekankan pada pengalaman belajar bagi setiap anak.
5.      Model pembelajaran berdasarkan sentra
Adalah pendidikan pembelajaran dalam proses pembelajaran dilakukan di dalam lingkaran dan sentra bermain. Guru bersama anak duduk dengan posisi melingkar dan saat dalam lingkaran, guru memberikan pijakan pada anak sebelum dan sesudah bermain Sentra bermain merupakan area / zona bermain anak yang di lengkapi alat bermain, berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar anak dalam berbagai aspek perkembangan secara seimbang. Dalam membuka sentra setiap hari disesuaikan dengan jumlah kelompok setiap PAUD Pembelajaran sentra dilakukan secara tuntas mulai awal kegiatan sampai akhir dan fokus pada satu kelompok usia PAUD dalam satu kegiatan di satu sentra kegiatan Setiap sentra mendukung perkembangan anak dalam tiga jenis bermain : bermain sensori motor / fungsional , bermain peran , bermain konstruktif (membangun pemikiran anak).
Selain metode yang bersifat teknis di atas, ada beberapa metode pengajaran yang lebih umum antara lain :


a.       Metode Global (Ganze Method)
Anak belajar membuat suatu kesimpulan dengan kalimatnya sendiri. Contohnya, ketika membaca buku, minta anak menceritakan kembali dengan rangkaian katanya sendiri. Sehingga informasi yang anak peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diserap lebih lama. Anak juga terlatih berpikir kreatif dan berinisiati.
b.      Metode Percobaan (Experimental method)
Metode pengajaran yang mendorong dan memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Setidaknya tedapat tiga tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasi, yaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya, anak belajar tentang tanaman pisang, pendidik tak hanya menjelaskan tentang pisang tapi juga mengajak anak ke kebun untuk mengeksplorasi tanaman pisang. Dengan belajar dari alam, anak dapat mengamati sesuatu.



KESIMPULAN, HAMBATAN, SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa TK Dharma Wanita Persatuan USU telah memiliki pengelolaan kelas yang cukup baik.Dimana TK ini telah cukup memenuhi prinsip penataan kelas,  gaya penataan kelas menggunakan gaya tatap muka, prinsip penataan kelas sudah terpenuhi. Tetapi menurut kami, guru pada TK ini kurang dalam memberikan reward berupa pujian terhadap murid-murid yang sudah berani menjawab pertanyaan guru. 
Hambatan
            Secara keseluruhan semuanya berjalan lancar, tetapi terkadang ada beberapa anak yang masih malu-malu karena kedatangan kami, jadi mereka juga terkadang tidak menjawab apa yang kami tanyakan.
Saran
            Sebaiknya guru di TK Dharmawanita USU lebih sering memberikan reward bukan hanya  tepuk tangan tetapi juga berupa perkataan seperti “kamu pintar sayang!” agar memotivasi murid lebih berani menjawab pertanyaan guru serta lebih semangat.

TESTIMONI MASING-MASING
Hafizah Aini 16-002
Pengalaman yang menarik dan menyenangkan. Karena berinteraksi dengan anak-anak. Dengan adanya kegiatan observasi ini membuat saya mengetahui hal apa saja yang bisa diobservasi dan energi positif dari anak-anak itu rasanya menular kepada kami. Bagaimana keceriaan dan semangat mereka yang membuat kami ikut bersemangat dan ceria.
Talenta M.N. Hutabarat 16-005
Menurut saya, kegiatan observasi terhadap manajemen kelas dimata kuliah psikologi pendidikan ini adalah hal yang baru dan merupakan bagian tugas yang sangat menyenangkan dan sangat membantu dalam penambahan ilmu secara praktik dalam pembelajaran selama kuliah.
M. Ridhona Z. Nur 16-010
Observasi ini membuat saya ingin kembali ke masa kecil saya. Apalagi lihat anak –anak yang lucu lucu. Wihhh.... makin membuat saya betah di TK itu. Dan satu hal yang membuat saya belajar dari TK itu adalah nikmatilah masa kecilmu!. Sebab jika kita merasa masa kecil kita pahit,maka jadikanlah ia alasan buat kesuksesanmu di masa depan, tapi jika kita merasa masa kecil kita manis maka jangan jadikan ia alasan tetapi pertahankanlah untuk kemudahanmu  dalam kesuksesanmu di masa depan.
Wanda Pratama 16-026
Menurut saya sistem pembelajarannya sangat menyenangkan karena anak-anak bisa belajar sambil bermain, sebab pembelajar seperti itu tidak ada kebosanan dalam belajar
Neni Tria Harahap 16-030
Observasi ini merupakan pengalaman yang menarik untuk saya, karena saya sebelumnya belum pernah melalukan observasi terutama terjun langsung mengobservasi anak-anak TK.Serta banyak sekali hal positif yang saya peroleh seperti semangat mereka yang tinggi dalam belajar dan observasi ini juga mengingatkan saya terhadap masa TK saya dulu, bahwa guru akan sangat sabar menjawab pertanyaan yang terkadang sangat lucu dan tidak masuk akal.


Intan Yolanda 16-041
Menurut saya sistem pembelajarannya sudah cukup bagus dan juga sistem pengajarannya. Hanya perlu di maksimalkan saja. Selain itu, sekolah juga harus melihat bagaimana cara siswa belajar agar lebih mudah dan baik dalam menerima pelajaran di sekolah. 
Santi Melisa 16-058
Observasi kepada anak-anak TK justru semakin membuat saya deg-degan! Saya sangat senang bertemu dengan anak-anak dan seketika saya merasa lebih muda. Para guru dan murid menyambut kami dengan sapaan dan senyuman hangat. Mereka sangat atraktif tetapi terkadang suasana kelas menjadi agak ribut. Akan tetapi guru bisa mengontrol mereka. Saya berkeinginan untuk melakukan observasi ketempat lain lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Santrock, John. (2004), Psikologi Pendidikan.Jakarta: Prenadamedia Group






POSTER


LAMPIRAN




DOKUMENTASI
Foto bersama anggota kelompok dan guru beserta murid-murid




Keadaan kelas



Guru memeriksa dan menilai gambaran siswa



Thank you for looking! 
 

Talenta's World Template by Ipietoon Cute Blog Design